Surat Al Ma Un Ayat 1 7

Pria yang sedang mebaca Al-Qur’an. https://world wide web.freepik.com/


Membaca


surat


Alquran adalah suatu kewajiban bagi umat muslim. Karena di dalam Alquran berisi hal yang menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalankan kehidupan.


Dikutip dari buku yang berjudul


Kearifan Al-Qur’an karya Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, G.Ag (2020: 1)



,“Alqruan memiliki tiga jenis petunjuk bagi manusia. Pertama doktrin yang membeikan pengetahuan tentang strruktur kenyataan dan posisi manusia di dalamnya. Alquran mengandung segala pelajaran yang diperlukan manusia untuk mengetahui siapa dirinya, di mana ia berada, dan ke mana ia pergi. Kedua petunjuk yang menyerupai ringkasan sejarah manusia sepanjang zaman dan segala cobaan yang menimpa mereka. Alquran adalah petunjuk tentang kehidupan manusia, yang dimulai dari dia kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Ketiga Alquran berisi sesuatu yang dapat disebut “magi” agung yang berarti metafisis. Ayat Alquran mengandung kekuatan yang berbeda dari apa yang kita pelajari secara rasioan.”


Mempelajari isi dalam


Alquran


dapat membuat kita mengerti betapa besarnya keagungan Allah. Salah satu surat yang perlu dipahami adalah surat Al Maun.

Memahimi Al-Qur’an membuat orang akan takjuba akan kuasa Allah. https://www.freepik.com/


Bacaan dan Tafsir Surat Al-Maun Ayat one-7


Al-Maun adalah surat ke-107 dalam Alquran dan terdapat pada juz thirty. Al-Maun termasuk surat Makkiyah yang turun di Mekah dan ditandai dengan surat yang pendek. Berikut


bacaan


surat Al Maun.


أَرَءَيْتَ الَّذِى يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ١


فَذٰلِكَ الَّذِى يَدُعُّ الْيَتِيْمَ٢


وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ٣


فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ٤


الَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ٦


وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْن٧



aro-aital ladzii yukaddzibu biddiin. fadzaalikal ladzii yadu”ulyatiim,



walaa yahuddhu ‘alaa tho’aamil miskiin, fawailul lil musholliin, alladziina hum ‘an sholaatihim saahuun, alladziina hum yuroo-uun, wayamna’uunal ma’uun.


ane. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?


ii. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,


3. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.


4. Maka celakalah orang yang shalat,


5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya,


7. dan enggan (memberikan) bantuan.


Mendustakan Hari Pembalasan


أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ


“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan?” (QS. Al Maa’uun: 1-7).


Mengenai kata “الدين” (advertizing diin) dalam ayat di atas, ada empat pendapat: (1) hukum Allah, (2) hari perhitungan, (3) hari pembalasan dan (four) Al Qur’an. Demikian kata Ibnul Jauzi dalam kitab tafsirnya, Zaadul Masiir (9: 244). Jadi ayat tersebut bisa bermakna orang yang mendustakan hukum Allah, hari perhitungan, hari pembalasan atau mendustakan Al Qur’an.


Tidak Menyayangi Anak Yatim dan Fakir Miskin


فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ


“Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”


Dalam dua ayat di atas digabungkan dua hal:


1. Tidak punya kasih sayang pada anak yatim. Padahal mereka itu orang yang patut dikasihi. Perlu diketahui, yatim adalah yang ditinggal mati orang tuanya sebelum ia baligh (dewasa). mereka yang patut dikasihi karena mereka tidak lagi memiliki orang tua yang mengasihinya. Akan tetapi yang disebutkan dalam ayat ini adalah orang yang membenci anak yatim. Yaitu ketika yatim tersebut datang, mereka menolaknya dengan sekeras-kerasnya atau meremehkannya.


two. Tidak mendorong untuk mengasihi yang lain, di antaranya fakir miskin. Padahal fakir dan miskin sangat butuh pada makanan. Orang yang disebutkan dalam ayat ini tidak berkeinginan untuk memberikan makan pada orang miskin karena hatinya memang telah keras. Jadi intinya, orang yang disebutkan dalam dua ayat di atas, hatinya benar-benar keras.


Orang yang Lalai dari Shalatnya


وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ , الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ


“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”.


Kata Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud di sini adalah orang-orang munafik yaitu yang mereka shalat di kala ada banyak orang, namun enggan shalat ketika sendirian. (Shahih Tafsir Ibnu Katsir, iv: 691)


Dalam ayat disebutkan “لِلْمُصَلِّينَ”, bagi orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang biasa shalat dan konsekuen dengannya, lalu mereka lalai. Yang dimaksud lalai dari shalat bisa mencakup beberapa pengertian:


1. Lalai dari mengerjakan shalat.


2. Lalai dari pengerjaannya dari waktu yang ditetapkan oleh syari’at, malah mengerjakannya di luar waktu yang ditetapkan.


three. Bisa juga makna lalai dari shalat adalah mengerjakannya selalu di akhir waktu selamanya atau umumnya.


iv. Ada pula yang memaknakan lalai dari shalat adalah tidak memenuhi rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan


v. Lalai dari shalat bisa bermakna tidak khusyu’ dan tidak merenungkan yang dibaca dalam shalat.


Lalai dari shalat mencakup semua pengertian di atas. Setiap orang yang memiliki sifat demikian, maka dialah yang disebut orang yang lalai dari shalat. Jika ia memiliki seluruh sifat tersebut, maka semakin sempurnalah kecelakaan untuknya dan yang membuatnya menjadi orang-orang yang merugi.


Mereka yang Cari Muka dalam Beribadah


الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ


“Orang-orang yang berbuat riya’ ”. Riya’ adalah ingin amalannya nampak di hadapan orang lain, ibadahnya tidak ikhlas karena Allah, istilahnya ingin ‘cari muka’.

Terdapat banyak sekali ajaran kehidupan yang teradpat dalam Al-Qur’an. https://www.freepik.com/


Berkaitan dengan ayat di atas, Ibnu Katsir mengatakan, “Barangsiapa yang awalnya melakukan amalan lillah (ikhlas karena Allah), kemudian amalan tersebut nampak di hadapan manusia lalu ia pun takjub, maka seperti itu tidak dianggap riya’.”


Di antara tanda orang yang riya’ dalam shalatnya adalah:


• Seringnya mengakhirkan waktu shalat tanpa ada udzur


• Melaksanakan ibadah dengan malas-malasan.


• Menampakan ibadahnya hanya karena ingin pujian.


وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ


“dan enggan (menolong dengan) barang berguna”.


Jika lihat dari terjemahan Alquran, yamna’unal maa’uun diterjemahkan dengan orang yang enggan menolong dengan barang berguna. Namun memang, para ulama tafsir berbeda pendapat dalam mendefinisikan yamna’unal maa’uun.


Sebagian berkata bahwa al maa’uun bermakna orang yang enggan bayar zakat. Yang lain lagi mengatakan bahwa maksud al maa’uun adalah orang yang enggan taat. Yang lainnya lagi berkata sebagaimana yang kami maksudkan yaitu “يمنعون العارية”, mereka yang enggan meminjamkan barang kepada orang lain (di saat saudaranya butuh).


Tafsiran terakhir ini sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Tholib, yaitu jika ada yang ingin meminjam timba, periuk atau kampaknya, maka ia enggan meminjamkannya.


Secara keseluruhan, dalam Surat Al-Maun ayat1-seven memiliki makna bahwa orang yang enggan menolong orang lain dengan harta atau sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Source: https://kumparan.com/berita-terkini/bacaan-dan-tafsir-surat-al-maun-ayat-1-7-1w0jOqO3tm2

Posted by: biggayread.com