Pengibar Bendera Merah Putih Pertama Kali Adalah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ilyas Karim
Lahir 13 Desember 1927
(umur 94)




Indonesia

Padang, Sumatra Barat
Tempat tinggal Dki jakarta
Kebangsaan
Indonesia

Indonesia
Pekerjaan Purnawirawan TNI
Dikenal atas Mengaku sebagai pengibar bendera proklamasi kemerdekaan (kontroversi)

Ilyas Karim
(lahir thirteen Desember 1927).[1]
adalah seorang pensiunan TNI yang mengaku sebagai salah satu dari dua orang pengibar pertama bendera merah putih pada saat proklamasi kemerdekaan Republic of indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.[2]
Pengakuannya diragukan banyak pihak karena bertentangan dengan informasi yang telah diketahui secara luas bahwa pengibar pertama bendera merah putih adalah Latief Hendraningrat dan Suhud Sastro Kusumo.[iii]

Pengakuan sebagai pengibar pertama bendera merah putih

[sunting
|
sunting sumber]

Ilyas Karim pertama kali muncul dalam pemberitaan detikcom pada Agustus 2008. Ia mengaku sebagai pengibar pertama bendera merah putih bersama Latief Hendraningrat. Dalam pengakuannya, ia adalah orang bercelana pendek yang tampak dari belakang dalam foto pengibaran bendera merah putih pada proklamasi kemerdekaan Republic of indonesia. Selama ini orang tersebut dikenal publik sebagai Suhud Sastro Kusumo.

Menurut pengakuan Ilyas, pada waktu itu, ia adalah seorang murid di Asrama Pemuda Islam (API) yang bermarkas di Menteng, Jakarta Pusat. Malam hari sebelum pembacaan proklamasi kemerdekaan Republic of indonesia, Ilyas beserta 50-an teman dari API diundang ke rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Saat berkumpul di rumah Soekarno itulah Sudanco (Komandan Peleton) Latief Hendraningrat menunjuknya untuk menjadi pengibar bendera di acara proklamasi kemerdekaan keesokan harinya. Satu orang pengibar yang lain yang ditunjuk adalah Sudanco Singgih, seorang tentara PETA. Ia ditunjuk karena merupakan yang paling muda, saat itu ia berumur 18 tahun.[2]

Kontroversi

[sunting
|
sunting sumber]

Pengakuan Ilyas diragukan dan ditolak mentah-mentah oleh berbagai kalangan yang terdiri dari keluarga pelaku sejarah dan sejarawan.[3]
[iv]
[five]
[6]
Ia diduga memiliki motif ekonomi terkait pengakuannya tersebut.[7]

Video:https://www.youtube.com/watch?v=jFq_6En37T8

Hadiah apartemen

[sunting
|
sunting sumber]

Pada 17 Agustus 2011, Ilyas Karim mendapatkan hadiah sebuah apartemen di Kalibata City. Penyerahan dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto dan CEO PT Pradani Sukses Abadi (pengembang Kalibata City) Budi Yanto Lusli. Apartemen tersebut masih dalam proses pembangunan dan diperkirakan baru akan bisa dihuni pada Mei 2012.[8]
[nine]

Karier

[sunting
|
sunting sumber]

Setelah terlibat dalam pengibaran bendera merah putih pada proklamasi kemerdekaan, Ilyas kemudian menjadi tentara. Pada 1948, Ilyas dan sejumlah pemuda di Jakarta diundang ke Bandung oleh Kasman Singodimedjo. Di Bandung, dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kesatuan tentara ini kemudian berganti nama menjadi Siliwangi. Nama Siliwangi merupakan usul dari Ilyas.

Sebagai tentara, Ilyas pernah diterjunkan di sejumlah medan pertempuran di berbagai daerah, termasuk ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di Libanon dan Vietnam. Pada 1979, Ilyas pensiun dengan pangkat letnan kolonel.

Sejak 1996, Ilyas menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang memiliki cabang di fourteen provinsi, antara lain di Medan, Riau, Jambi, Palembang, Banten, dan Ambon. Jabatannya akan berakhir pada 2009. Yayasan itu sendiri bergerak di bidang sosial. Kegiatannya antara lain penyantunan anak yatim, pembangunan tempat ibadah, dan penyantunan orang jompo.[2]

Kehidupan

[sunting
|
sunting sumber]

Ilyas Karim menetap di Djakarta bersama keluarganya sejak 1936. Ayahnya dulu seorang camat di Matraman. Di zaman penjajahan Jepang, ayahnya dibawa ke Tegal dan dieksekusi tentara Jepang. Sejak saat itu, Ilyas menjadi yatim.

Dua tahun setelah pensiun sebagai tentara, Ilyas diusir dari tempat tinggalnya di asrama tentara Siliwangi Lapangan Banteng, Dki jakarta Pusat.

Sejak 1985, Ilyas tinggal di rumah berukuran 50 meter persegi yang berdiri di atas sebidang tanah di pinggir rel kereta api di Kalibata, Djakarta Selatan. Tanah itu ia peroleh dari PJKA (sekarang PTKA) dalam bentuk pinjaman. PJKA mempersilahkan Ilyas memakai tanah itu sampai kapan pun. Meskipun diberi pinjaman tanah, namun untuk rumahnya, Ilyas harus membangun sendiri. Dibantu oleh kawan-kawan seperjuangannya di Divisi Siliwangi, Ilyas mendirikan sebuah rumah sederhana dua lantai di tanah pinjaman tersebut.[1]
Namun, pada tahun 2008, ia mendapatkan surat dari Pemerintah Provinsi DKI Djakarta bahwa ia harus meninggalkan rumahnya pada tahun 2009 karena di dekat lokasi tersebut akan dibangun rumah susun milik pemerintah.[10]
[11]

Pada Mei 2012, setelah selesainya apartemen Kalibata City yang dihadiahkan kepadanya, ia akan pindah.[9]

Referensi

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b



    Ilyas Karim, Pejuang yang Hidup di Rumah Gembel
  2. ^


    a




    b




    c



    Ilyas Karim, Pengibar Pertama Sang Saka Merah Putih
  3. ^


    a




    b



    Benarkah Ilyas Karim Pengibar Bendera Saat Proklamasi?

  4. ^

    Ilyas Karim Bukan Pengibar Sang Saka Pertama

  5. ^

    Keluarga Bung Hatta: Kami Tak Kenal Ilyas Karim

  6. ^

    “Itu Ayah Kami, Bukan Ilyas Karim”

  7. ^

    Faktor Ekonomi Diduga Jadi Motif Ilyas Karim

  8. ^

    Kado Apartemen bagi Pengibar Pertama
  9. ^


    a




    b



    Ilyas Karim Masih Tinggal di Pinggir Rel

  10. ^

    Rumah Pejuang Ilyas Karim di Pinggir Rel akan Digusur

  11. ^

    Digusur, Pejuang Ilyas Karim Tagih Janji Foke dan SBY

Pranala luar

[sunting
|
sunting sumber]

  • [i]
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

    .
  • [2]
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

    .



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Ilyas_Karim

Posted by: biggayread.com