Angklung Adalah Alat Musik Tradisional Dari Daerah

Mengenal Angklung, Alat Musik Tradisional Khas Sunda yang Diakui UNESCO

Koropak.co.id, 27 December 2021 17:01:55

Penulis : Eris Kuswara

Mengenal Angklung, Alat Musik Tradisional Khas Sunda yang Diakui UNESCO

Koropak.co.id
– Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional khas Jawa Barat yang terbuat dari bilahan bambu dan dimainkan dengan cara digoyang.

Diketahui Angklung juga mempunyai berbagai jenis mulai dari angklung reog, angklung banyuwangi, angklung bali, angklung kanekes dan lainnya.

Angklung juga ternyata tidak hanya dikenal oleh masyarakat Jawa Barat, melainkan juga telah tersebar ke seluruh pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan bahkan hingga ke mancanegara.

Luar biasanya lagi, Angklung secara resmi telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) pada November 2010.

Sementara itu, untuk bambu yang digunakan sebagai bahan angklung adalah adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Setiap zippo yang dihasilkan itu juga berasal dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah setiap ruas bambu mulai dari ukuran kecil hingga besar.

Dilansir dari berbagai sumber, Kata angklung sendiri berasal dari Bahasa Sunda dan terdiri dari dua suku kata, yaitu ‘angkleung-angkleung’ atau yang berarti diapung-apung dan ‘klung’ atau merupakan suara yang dihasilkan oleh alat musik tersebut.

Dengan kata lain angklung memiliki arti suara ‘klung’ yang dihasilkan dengan cara mengangkat atau mengapung-apungkan alat musik tradisional itu.

Banyak yang mengatakan bahwa suara angklung dipercaya akan mengundang perhatian Dewi Sri (Nyi Sri Pohaci) yang dipercaya sebagai dewi pembawa kesuburan terhadap tanaman padi para petani serta akan memberikan kebahagian dan kesejahteraan bagi umat manusia.

Angklung juga dikenal sebagai alat musik multitonal (bernada ganda) dan setiap satu alat musik angklung itu hanya menghasilkan satu nada. Sehingga, berbeda ukuran angklung yang digetarkan atau digoyangkan, maka akan berbeda pula nada yang dihasilkan.

Oleh karena itulah, dalam permainannya, dibutuhkan beberapa pemain angklung untuk menghasilkan melodi yang indah agar enak untuk didengar. Selain itu, seorang pemain angklung juga ternyata dapat sekaligus memainkan 2 atau three buah alat musik angklung.

Selain itu, angklung yang selama ini digunakan sebagai alat musik itu pada dasarnya memiliki fungsi yang hampir sama dengan alat-alat musik lainnya.

Bahkan, kunci aught pada alat musik angklung juga tidak ubahnya seperti alat musik piano atau organ yang selama ini kita ketahui dan mainkan. Hanya saja, pada alat musik angklung, untuk bahan material penghasil suaranya terbuat dari bahan dasar bambu.

Jika kamu masih mengira bahwa angklung tersebut hanya memiliki satu jenis, berarti kamu salah. Karena, angklung sendiri memiliki beberapa jenis yang mungkin belum semua orang mengetahuinya dan setap jenisnya juga memiliki nada yang berbeda. Berikut 3 jenis angklung yang bisa diketahui sebagaimana dihimpun Koropak, Senin 27 Desember 2021:

1. Angklung Kanekes

Angklung kanekes merupakan jenis angklung yang dibuat di daerah Kanekes, yaitu sebuah daerah di Baduy, Provinsi Banten. Diketahui, orang-orang yang dapat dan berhak membuat angklung kanekes tersebut hanyalah orang-orang dari Baduy Dalam, yaitu orang-orang Kajeroan. Angklung ini juga dimainkan pada saat panen sawah atau juga menanam padi.

2.Angklung Padaeng

Angklung padaeng ini dibuat oleh sang pencetus angklung itu sendiri, yaitu Daeng Soetigna. Angklung jenis ini menggunakan zero diatonis. Oleh sebab itu, angklung padaeng dapat menghasilkan naught suara dari berbagai musik internasional dan modern dan bukan hanya musik daerah saja.

Angklung ini juga bisa dimainkan dan digabungkan dengan ensembel lainnya seperti piano, gitar, drum dan lainnya. Angklung padaeng terbagi menjadi dua jenis yaitu angklung melodi dan angklung akompanimen.

Untuk angklung melodi merupakan jenis angklung yang terdiri atas dua tabung dengan disparitas goose egg satu oktaf. Sementara, angklung akompanimen adalah jenis angklung yang dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu yang harmonis.

3. Angklung Toel

Angklung toel adalah jenis angklung yang dijejerkan secara terbalik dan diberi karet. Angklung ini sendiri diketahui ditemukan dan diciptakan oleh Yayan Udjo pada tahun 2008. Toel dalam bahasa Republic of indonesia berarti sentuh. Jadi, untuk pemakaian angklung ini hanya cukup disentuh, maka akan mengeluarkan nada-nada yang dihasilkan pada angklung ini.*

Molapi Saronda, Ritual “Menengok” Calon Istri Sebelum Menikah

Koropak.co.id, 17 Baronial 2022 07:21:33

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Gorontalo
– Ada banyak tradisi di Gorontalo. Salah satunya adalah budaya melempar selendang atau molapi saronde. Itu merupakan tarian ritual pernikahan adat Gorontalo. Tarian tersebut dilakukan pengantin pria sebagai sarana untuk mengintip atau menengok calon istri di rumah mempelai wanita.

Dalam prosesi Molapi Saronde biasanya diiringi dengan tabuhan rebana dan Turunani atau kesenian vokal bernuansa Islam. Untuk bahan yang digunakan dalam prosesi adat ini adalah tiga macam selendang berwarna hijau, kuning, dan kuning telur.

Tarian tersebut pertama kali muncul seiring dengan masuknya ajaran agama Islam ke daerah Gorontalo sekitar 1525-an, bermula dari Olangia atau raja Amai yang kala itu menjadikan Islam sebagai agama kerajaan.

Pada masa itu, raja merumuskan prinsip “adati hula-hula’a to sara’a, sara’a hula’a lo adati atau adat bersendi syarak, syarak bersendi adat” yang mempertautkan adat dan syariat. Formulasi itu pada akhirnya melahirkan aturan tata adat yang secara turun-temurun diwariskan melalui pemangku adat dan jaringan keluarga.

Tercatat, setidaknya ada 185 butir aturan tata adat yang berlaku dan diwariskan secara turun temurun. Dalam tata aturan tersebut, disebutkan bahwa pergaulan antara pria dan wanita muda dibatasi. Itulah sebabnya, saat hendak menikah, calon pengantin hanya bisa menerima calon pasangan yang telah dipilihkan oleh kedua orangtua mereka.

Baca:
Martandang, Cara Pria Batak Dekati Wanita Pujaan

Kemudian pada urutan ke-11 butir adat tertulis dengan jelas adat Mopotilantahu atau mempertunangkan dalam proses pernikahan, termasuk juga di dalamnya tarian Molapi Saronde yang menjadi sarana Molihe Huali atau mengintip calon istri.

Secara harfiah, Molapi saronde terdiri dari kata molapi yang artinya menjatuhkan, selentangi atau selendang yilonta atau wewangian yang terbuat dari aneka kembang dan dedaunan rempah-rempah yang dicampur dengan minyak kelapa yang selanjutnya disebut saronde.

Prosesi Molapi Saronde biasanya dilakukan pada malam hari sebelum upacara pernikahan berlangsung. Pada malam itu, keluarga calon mempelai pria akan berkunjung ke rumah calon mempelai wanita dengan tujuan untuk Mopotilontahu atau Molilo huwali yang berarti “menengok dan mengintip” calon mempelai wanita.

Saat tiba di rumah mempelai wanita, mempelai pria bersama ayahnya atau walinya, akan menari Molapi Saronde. Hal itu dilakukan untuk memperlihatkan kepada sang mempelai wanita, bahwa dirinya siap dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Seiring berjalannya waktu, kini tarian ritual dalam pernikahan adat Gorontalo tersebut sudah berkembang menjadi seni pertunjukan. Selain itu, Molapi Saronde atau Tari Saronde juga saat ini tidak lagi hanya dilakukan oleh pengantin laki-laki menjelang hari pernikahan, akan tetapi juga dipertunjukkan pada beragam acara budaya.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Tujuh Tradisi Unik di Indonesia Sambut HUT Kemerdekaan

Koropak.co.id, xv Baronial 2022 07:43:16

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Perayaan HUT ke-77 Republik Indonesia tinggal menghitung hari. Selain dimeriahkan dengan peringatan upacara, biasanya di berbagai daerah memiliki tradisi khusus untuk merayakan Hari Kemerdekaan yang diperingati pada 17 Agustus.

Dalam tradisi yang dilaksanakan itu, setiap daerah biasa menunjukkan keunikannya masing-masing, sehingga selalu ditunggu masyarakat. Apa saja? Berikut ini beberapa di antaranya:

1. Pawai Jempana

Dalam memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, biasanya warga Bandung akan menggelar Pawai Jempana dengan cara membuat sebuah tandu besar berisikan aneka ragam hasil bumi, hidangan makanan, hingga kerajinan tangan. Setelah pawai selesai, warga dipersilakan untuk mengambil isi tandu tersebut. Selain di Bandung, pawai jempana juga bisa ditemukan di beberapa daerah lainnya di Jawa Barat.

2. Estafet Obor

Warga Semarang biasa menggelar lomba estafet obor untuk menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Peserta yang mengikuti lomba, tentunya harus membawa obor sesuai dengan rute yang sudah ditentukan. Masyarakat memilih obor karena dianggap sebagai simbol semangat dari para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

three. Karapan Kambing

Mungkin kita hanya mendengar istilah karapan sapi, sebuah tradisi yang berasal dari Madura. Akan tetapi ternyata ada juga istilah karapan kambing yang merupakan tradisi khas masyarakat Lumajang. Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan dalam rangka merayakan hari kemerdekaan Republik Republic of indonesia.

Dalam pelaksanaannya, dua kambing akan diikat satu sama lain untuk bersiap-siap mengikuti perlombaan. Kemudian sang pemilik kambing akan ikut berlari agar kedua kambingnya dapat berlari dengan cepat dan sesuai arah. Setiap peserta biasanya memiliki strategi tersendiri agar kambingnya dapat berlari kencang, seperti memasang bunyi-bunyian dari kerikil dan lain sebagainya.

Baca:
Serba-serbi Permainan Tradisional dari Biji

iv. Peresean

Berbeda dengan daerah lainnya, dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI, masyarakat Lombok biasanya mengadakan tradisi Peresean. Tradisi ini merupakan adu ketangkasan antara dua orang pria yang dilakukan oleh Suku Sasak. Untuk alat yang digunakan dalam Peresean berupa senjata yang terbuat dari rotan dan perisai dari kulit kerbau.

5. Sepak Bola Api

Berbeda dengan sepakbola pada umumnya, masyarakat Cirebon menggelar pertandingan sepakbola dengan menggunakan bola api untuk merayakan hari kemerdekaan. Dikarenakan terbilang ekstrem, peserta yang akan mengikuti pertandingan sepakbola api diwajibkan untuk berpuasa selama 21 hari. Selain diadakan pada hari kemerdekaan, warga Cirebon juga turut mengadakan sepak bola api ketika bulan Ramadan tiba.

6. Lomba Dayung

Tidak kalah dengan daerah lainnya, Banjarmasin juga memiliki tradisi unik dalam merayakan Hari Kemerdekaan. Tradisi itu berupa perlombaan Dayung Perahu Naga yang biasanya diselenggarakan di Sungai Martapura. Menariknya, lomba dayung ini tidak hanya diikuti oleh warga lokal saja, melainkan juga diikuti warga dari daerah lain. Selain sebagai sarana hiburan, perlombaan ini juga diselenggarakan sebagai ajang dalam mencari bibit atlet dayung yang handal.

seven. Tradisi Barikan

Setiap malam 17 Agustus, masyarakat Malang biasanya akan menggelar tradisi Barikan yang diisi dengan menyanyikan lagu kebangsaan, renungan kemerdekaan, makan hingga doa bersama. Selain sebagai ajang mempererat tali persaudaraan, tradisi Barikan ini juga diadakan sebagai ungkapan rasa syukur atas kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Enam Permainan Tradisional yang Bisa Dijadikan Lomba 17 Agustus

Koropak.co.id, xiv August 2022 12:xviii:41

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Peringatan Hari Kemerdekaan Republic of indonesia setiap 17 Agustus selalu menjadi momen yang paling dinantikan masyarakat. Biasanya, untuk mengisi HUT Kemerdekaan masyarakat menggelar bermacam lomba.

Selain diisi aneka lomba kekinian, masih ada yang mengadakan lomba yang termasuk jadul namun seru untuk dimainkan.

Selain sebagai hiburan, dengan memasukkan aneka permainan tradisional ke dalam lomba 17 Agustus secara tidak langsung turut berperan dalam melestarikannya. Apa saja?

1. Bakiak

Di beberapa daerah di Indonesia, bakiak menjadi permainan tradisinal yang unik dan cukup populer untuk dijadikan sebagai lomba 17 Agustus. Bakiak merupakan sendal dari kayu yang digunakan untuk tiga orang atau lebih. Cara bermainnya, kaki tiga orang atau lebih dimasukkan ke pengait di sebuah papan panjang.

Kemudian setiap orang harus menggerakkan kakinya dengan kompak agar bisa berjalan. Pemenangnya adalah kelompok yang tercepat sampai garis end. Meski terkenal sebagai permainan tradisional Indonesia, akan tetapi awalnya bakiak sendiri terinsipirasi dari budaya bangsa Jepang dan China yang kerap menggunakan sendal kayu.

2. Egrang

Sama halnya seperti bakiak, egrang juga menjadi salah satu permainan tradisional yang bisa dimainkan untuk lomba 17 Agustus. Untuk bermain egrang, pemainnya harus bisa menaiki tongkat kayu atau bambu dengan pijakan kaki di bawahnya.

Kaki pemain harus menaiki pijakan, berdiri di atasnya, kemudian berjalan sambil tangan memegang ke tongkat yang berfungsi sebagai penggerak sekaligus penyeimbang. Di Republic of indonesia, egrang memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Seperti di Lampung disebut egrang, Sumatra Barat tengkak-tengkak, Jawa Tengah jangkungan, dan di Kalimantan Selatan disebut batungkau.

3. Gobak Sodor

Gobak sodor merupakan permainan tradisional yang awalnya dikenalkan oleh bangsa kolonoial Belanda dengan nama Go Dorsum Through the Door. Namun dikarenakan lidah orang Indonesia yang kesulitan dalam menyebut kata asing, akibatnya permainan itu pun disebut orang Indonesia dengan sebutan gobak sodor.

Baca:
Enam Mainan Anak “Jadul” dari Karet Gelang

Permainan gobak sodor dilakukan secara berkelompok. Satu kelompok akan menjadi penghalang dan satu kelompok lagi menjadi penyerang. Dalam permainannya, kelompok penyerang harus bisa menembus penghalang dari kotak awal sampai akhir. Jika penyerang tersentuh oleh penghalang, berarti dia kalah. Sebaliknya, jika penyerang mampu menembus kotak awal sampai akhir tanpa tersentuh penghalang, ia dinyatakan menang.

four. Gasing

Gasing yang dijadikan sebagai permainan tradisional ini biasanya berbentuk bulat dan terbuat dari bahan kayu dengan kaki kecil di tengah. Cara bermain gasing dengan cara dihempas, sehingga gasing akan berputar di porosnya menggunakan kaki kecilnya.

Sejarah dari permainan gasing di Indonesia ini tersebar di berbagai daerah. Seperti di Kepulauan Riau, permainan ini sudah dikenal sejak era penjajahan Belanda, sedangkan di Sulawesi Utara dikenal sejak 1930-an.

5. Layang-Layang

Pastinya siapa yang tak tahu dengan permainan layang-layang? Kepopuleran permainan tradisional yang juga bisa dimainkan untuk lomba 17 Agustus ini sampai memunculkan lagu Layang-Layang. Layang-layang merupakan permainan tradisional berupa lembaran bahan tipis yang ditempel di kerangka bambu, lalu diterbangkan menggunakan tali atau benang.

Ada banyak jenis permainan layang-layang untuk lomba 17 Agustus, misalnya menghias layang-layang hingga aduan layang-layang atau lomba layang-layang.

Selain dikenal sebagai permainan tradisional, layang-layang juga ternyata memiliki fungsi lain. Seperti di Jawa Barat dan Lampung, layang-layang dijadikan sebagai alat bantu dalam memancing, sedangkan di Pangandaran digunakan untuk menangkap kelelawar.

6. Boi-Boian

Boi-boian merupakan permainan tradisional yang biasanya dilakukan 5 s.d 10 orang anak. Untuk alat yang dibutuhkan dalam permainannya adalah lempengan batu, atau pecahan genting, dan bola kasti. Sebelum permainan dimulai, biasanya anak-anak akan menyusun pecahan genting cukup tinggi. Kemudian setelah itu, setiap pemain secara bergantian melempar tumpukan genting menggunakan bola kecil sampai roboh.

Setelah pecahan genting roboh, maka anak yang bertugas sebagai penjaga akan mengambil bola kecil itu lalu melemparkan ke anggota lain. Bagi para pemain yang terkena bola, maka mereka harus bergantian menjadi penjaga lempengan genting. Sedangkan pemain yang tidak terkena lempengan batu, akan bergantian melempar bola ke arah tumpukan batu.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Tradisi Adu Kuda, Simbol Harga Diri Orang Muna

Koropak.co.id, thirteen August 2022 fifteen:11:04

Fauziah Djayasastra

Koropak.co.id, Sulawesi Tenggara
– Di beberapa daerah di Republic of indonesia ada tradisi unik dalam menyambut tamu. Salah satunya tradisi adu kuda yang ada di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Dalam bahasa Muna, perkelahian atau adu kuda disebut pogiraha adhara digelar tanpa jadwal teratur.

Tradisi itu hanya diselenggarakan pada acara khusus, seperti menyambut tamu yang sebelumnya telah ikutserta dalam acara tahunan Festival Nepabale.

Adu kuda ini biasanya diselenggarakan di lapangan terbuka, dipandu oleh pawing yang berdiri di antara dua kuda jantan yang saling dihadapkan. Pawang itu mengenakan destar serta sarung yang melilit di pinggangnya. Lewat instruksinya, barulah tradisi langka ini dimulai.

Perkelahian dibuka ketika salah satu kuda meringkik sembari mengangkat kedua kaki depannya ke udara, setinggi yang dia bisa. Lantas lawannya akan melakukan hal serupa, seakan siap meladeni.

Kedua kuda tersebut lantas bergelut; menggigit dan menendang. Tak jarang mereka saling seruduk hanya untuk mengalahkan lawan. Namun ketika pertarungan mulai saling membahayakan, pawing akan datang melerai.

Baca:
Serba-serbi Permainan Tradisional dari Biji

Usai dilerai, tentu tidak begitu saja selesai. Pertarungan dua pejantan kuda itu kembali dilanjutkan. Tidak ada istilah menang-kalah, tidak pula sengaja diadu hingga terluka parah. Adu kuda hanya jadi hiburan masyarakat semata.

Dewasa ini, dalam setahun, pelaksanaannya hanya bisa dihitung jari. Itu juga terselenggara karena dilaksanakan oleh pemerintah setempat, khususnya di Desa Latugho, Kecamatan Lawa. Padahal jika berkaca ke belakang, tradisi adu kuda kerap terselenggara di tiap kecamatan.

Hal tersebut dikarenakan populasi kuda yang ada di Pulau Muna hanya tersisa puluhan ekor saja di Lawa. Sekitar tahun 1970-an, tradisi ini pun mulai menghilang bersamaan dengan perpindahan penduduk desa menuju tempat baru.

Kendati tak diketahui kapan tepatnya tradisi ini dimulai, namun menurut catatan para orang tua, tradisi ini telah ada sejak zaman Kerajaan Muna. Itu berarti keberadaannya telah ada sejak ratusan tahun silam dan diyakini sebagai sarana hiburan rakyat dalam berbagai perhelatan.

Bagi orang Muna, tradisi ini merupakan simbol harga diri. Dimana dalam situasi normal, seekor kuda tidak akan bersikap agresif. Namun dia akan berjuang sekuat tenaga membela kelompoknya ketika ada yang mengganggu.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Karawo, Kain Tradisional Khas Gorontalo

Koropak.co.id, xiii August 2022 07:22:46

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Gorontalo
– Di antara sekian banyak kekayaan budaya yang dimiliki Gorontalo, karawo adalah salah satunya. Itu merupakan kain tradisional yang dibuat secara manual. Itu sesuai namanya yang berarti sulaman dengan tangan.

Karawo lahir dari proses panjang, buah dari ketekunan para perajin, diturunkan dari generasi ke generasi sejak masa Kerajaan Gorontalo berjaya. Keindahan motifnya, keunikan cara pengerjaannya, hingga kualitasnya yang bagus, membuat Karawo Kerawang bernilai sangat tinggi.

Namun, pada satu waktu Karawo sempat mati suri. Saat itu tak banyak perajin yang menekuninya karena rumit, sehingga menyita banyak energi dan waktu. Pemerintah melakukan berbagai cara untuk membuat kain itu terus lestari dan semakin pop.

Salah satunya mengadakan Festival Karawo yang digelar untuk pertama kalinya pada 17 south.d. 18 Desember 2011.

Digelarnya festival tersebut untuk menarik minat masyarakat dalam mengenakan produk Karawo, sekaligus menguatkan ekonomi melalui pengembangan budaya daerah.

Menilik sejarahnya, tradisi mokarawo atau membuat sulaman merupakan sepenggal sejarah yang pernah diselamatkan kaum perempuan Gorontalo. Dulu, Pemerintah Kolonial Belanda berupaya untuk  menghilangkan berbagai tradisi dan identitas lokal.

Baca:
Mengulas Awal Mula Berkembangnya Batik Jawa Barat

Padahal, itu sudah ada sejak 1600-an, jauh sebelum Belanda berkuasa di wilayah Indonesia pada 1889. Saat Belanda masuk ke Republic of indonesia, ada dua peristiwa penting yang mewarnai sejarah Gorontalo.

Salah satu peristiwa bersejarah itu adalah upaya penghapusan segala bentuk tradisi, adat, dan hal-hal yang berkaitan dengan kesenian atau kebudayaan yang ada di sana. Saat itu, Belanda melihat kekuatan orang Gorontalo terletak pada adat, budaya, dan tradisinya.

Oleh karena itu Belanda melarang berbagai aktivitas yang terkait dengan adat dan tradisi. Hengkangnya Belanda di tanah Gorontalo juga tidak serta-merta membuat karawo dapat keluar dari “persembunyian”.

Situasi yang terjadi saat itu menimbulkan trauma bagi masyarakat, sehingga membuat tradisi mokarawo ini dilakukan di ruang tersembunyi. Sekitar akhir 1960-an, Karawo mulai kembali muncul.

Kendati demikian, Karawo kala itu belum jadi produk yang dijual secara bebas seperti barang lainnya. Jika ada yang berminat pada karawo, mereka akan datang langsung ke penyulam dan memesannya. Kala itu, Karawo sendiri kerap dibayar dengan menggunakan uang, hingga dibarter dengan barang kebutuhan lainnya.

Karawo saat ini dibuat oleh kalangan ibu rumah tangga yang menyebar di sejumlah wilayah di Gorontalo. Tercatat saat ini ada sekitar ten.000 ibu rumah tangga yang masih menekuni Karawo. Pemerintah setempat menginisiasi agar Karawo bisa menjadi warisan budaya dunia dalam Festival Karawo 2022 lalu.

Selain di dalam negeri, kini Karawo sudah dipasarkan hingga ke mancanegara, seperti Iran, Australia, Korea, Jepang, hingga Portugal.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Serba-serbi Permainan Tradisional dari Biji

Koropak.co.id, 11 August 2022 15:23:30

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jawa Barat
– Ada banyak permainan tradisional yang terbilang sederhana dan sangat seru untuk dimainkan. Selain menggunakan media berbahan kayu, bambu, plastik hingga bahan-bahan daur ulang yang aman digunakan untuk bermain, permainan tradisional di Indonesia juga bisa dimainkan dengan menggunakan biji-bijian sebagai medianya. Apa saja?

1. Adu Muncang

Bagi kalian yang berasal dari daerah Jawa Barat, seperti Sumedang, Garut, hingga Tasikmalaya dan sekitarnya, tentu sudah tak asing lagi dengan permainan adu kemiri atau yang lebih dikenal juga dengan nama ngaadu muncang.

Permainan tradisional yang cukup populer di tanah Sunda ini dimainkan dengan menggunakan muncang atau kemiri yang nantinya akan diadu kuat. Kemiri yang digunakan harus sudah kering dan masih ada kulitnya.

Adapun pemukulnya bisa berupa batu besar atau alat khusus yang terbuat dari kayu. Meski terbilang sederhana, namun permainan yang satu ini memiliki nilai positif, yaitu kebersamaan dan sportivitas antarpemain.

2. Adu Klingsi atau klingsian

Kendati asal usul dari permainan ini belum jelas, namun permainan tradisional yang satu ini sempat populer di Indonesia pada 1970 due south.d 1980-an. Diketahui, klingsi merupakan biji asam jawa. Cara bermainnya, biji klingsi akan diasah pada benda berpermukaan kasar hingga tersisa separuh atau sampai terlihat bagian dalamnya.

Setelah itu, biji tersebut ditempelkan pada pecahan kaca atau keramik dengan menggunakan beberapa cara, seperti dengan tepung kanji yang sudah dimasak, getah pohon, atau putih telur, akan tetapi juga tidak boleh menggunakan lem.

Selanjutnya, klingsi akan disejajarkan dengan klingsi pemain lain dan klingsi siapa yang paling lama menempel, dialah pemenangnya.

3. Adu Cilong

Permainan tradisional ini sangat populer di daerah Riau. Cilong merupakan biji dari pohon karet yang berjatuhan dan bisa dipungut di sekitar sekitar pohonnya. Cara memainkannya, pilih salah satu biji karet yang dianggap paling keras kulitnya. Kemudian ajak satu orang teman untuk main bersama. Untuk menentukan siapa yang akan bermain terlebih dahulu, biasanya ditentukan dengan cara undian.

Baca:
Murah dan Mudah, Tiga Mainan Anak Terbuat dari Tumbuhan

Pemain yang kalah undian harus rela cilong miliknya berada di bagian bawah. Sementara pemain yang menang undian, meletakkan cilongnya di atas cilong pemain yang kalah, setelah itu dipukul dengan tangan.

Jika cilong lawan belum pecah, maka permainan dilanjutkan secara bergantian dengan cilong milik lawan, begitu seterusnya sampai ada cilong dari salah satu pemain yang pecah. Pemenangnya adalah pemilik cilong yang tidak pecah.

four. Serak Biji Saga

Permainan serak biji saga terbilang sederhana, namun membutuhkan ketangkasan. Semakin banyak bijinya maka permainan akan kian menyenangkan. Pemain yang mendapatkan giliran pertama akan menyebarkan biji saga ke area bermain yang licin. Setelah itu menyentil salah satu biji saga dengan ujung kelingking hingga mengenai biji saga yang lain.

Apabila mengenai target, maka biji yang disentil dan biji yang tersenggol atau tergeser akibat disentil bisa menjadi milik pemain. Permainan dilanjutkan secara bergantian. Pemenangnya adalah dia yang berhasil mengumpulkan biji saga terbanyak.

5. Sumbar Suru

Sumbar Suru merupakan permainan tradisional yang berasal dari Yogyakarta. Diketahui, kata Sumbar memiliki arti menyebar, sedangkan suru berarti disendok. Biasanya, untuk bermain sumbar suru ini dibutuhkan 2 sampai five orang pemain.

Bahan yang dipakai dalam permainan ini adalah daun sawo kecik yang sudah dihilangkan pangkalnya dan biji sawo kecik atau biji tanjung. Permainan dilakukan di sebuah tempat datar berukuran forty x 40 centimeter.

Pemain yang mendapatkan giliran pertama bertugas untuk menyebarkan biji, lalu menyendok biji satu per satu dengan daun sawo kecik tanpa menyentuh biji lain. Biji yang boleh disendok hanya yang berada di area bermain.

Selain itu, pemain tidak boleh bergeser atau beranjak dari tempat semula. Apabila melanggar, maka pemain dianggap “mati” dan digantikan oleh yang lain. Pemenangnya adalah yang mampu menyendok biji hingga habis tanpa melanggar peraturan.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Tari Fataele dan Spirit Prajurit Nias Pertahankan Daerah

Koropak.co.id, 10 August 2022 15:42:09

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Sumut
– Selain tradisi lompat batu, Pulau Nias, di Sumatra Utara, juga punya tari fataele atau yang lebih dikenal juga dengan tari perang. Dalam tarian ini, para penari mengenakan pakaian warna-warni, seperti hitam, kuning dan merah, plus mahkota ikat kepala.

Layaknya seorang kesatria dalam peperangan, para penari tarian Fataele ini juga akan membawa pedang, tombak, hingga tameng, sebagai alat pertahanan diri saat menghadapi musuh. Dalam pertunjukannya, tarian dipimpin oleh seorang komando seperti dalam prosesi perang yang dipimpin oleh seorang Panglima.

Diceritakan, pada zaman dahulu di Kampung Nias sering terjadi peperangan terkait dengan perebutan lahan kekuasaan kampung. Pemimpin atau petinggi kampung Nias, yang sering disebut juga sebagai “Si’Ulu”, berinisiatif mengumpulkan para pemuda Nias untuk berlatih peperangan.

Tujuan pengumpulan para pemuda itu untuk mempertahankan kampung dari serangan musuh yang sering mengintai. Mereka yang akan ikut latihan perang akan diseleksi terlebih dahulu dengan cara yang unik, yaitu melompati Hombo Batu.

Jika pemuda itu berhasil melompati Hombo Batu, ia lulus dan akan melewati proses latihan perang sebelum dijadikan sebagai prajurit. Setelah itu, Si’Ulu akan mengadakan pesta kampung dengan memotong babi dan akan dinikmati para pemuda terpilih.

Kemudian dalam pesta itu juga, Si’Ulu akan mengumumkan nama pemuda yang telah berhasil melewati Hombo Batu. Hal itu pun tentunya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi pemuda yang terpilih. Selanjutnya, pemuda-pemuda pilihan itu akhirnya akan membentuk Fataele.

Baca:
Mengulas Pembelajaran Ilmu Fisika Melalui Tradisi Lompat Batu Nias

Dulu, pasukan Fataele sendiri dibentuk untuk mempertahankan daerah kekuasaan dari musuh. Akan tetapi, tidak jarang juga pasukan Fataele itu turut melakukan kegiatan adat seperti pesta pernikahan, pesta penyambutan tamu, maupun prosesi pengangkatan pemimpin kampung.

Seiring dengan perkembangan zaman, pasukan Fataele itu pun tidak lagi berperang, melainkan hanya bertugas untuk melakukan upacara adat saja. Mulai dari sanalah pada akhirnya Tari Adat Fataele itu terbentuk.

Dalam gerakannya, tarian khas Pulau Nias ini akan dimulai dengan gerakan kaki maju, mundur, sambil dihentak sembari meneriakkan kata-kata pembangkit semangat untuk berperang.

Gerakan itu memiliki makna kesiapan pasukan untuk terjun ke medan perang dengan penuh semangat kepahlawanan. Setelahnya, diikuti dengan formasi melingkar yang bertujuan untuk mengepung musuh.

Bagi masyarakat Nias, Tari adat Fataele dimaknai sebagai tari peperangan yang menjadi gambaran perjuangan dan solidaritas para prajurit yang penuh semangat dalam mempertahankan daerah tempat tinggal mereka.

Kini, tarian adat khas Sumatra Utara itu pun sering ditampilkan dalam prosesi adat tertentu, sekaligus sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang berkunjung ke Pulau Nias.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Rentak Kudo, Tarian Sakral Masyarakat Petani Kerinci Jambi

Koropak.co.id, 09 Baronial 2022 12:xvi:21

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jambi
– Kabupaten Kerinci, Jambi, punya kesenian sakral masyarakat petani yang disebut Tari Rantak atau lebih dikenal dengan Tari Rentak Kudo. Dinamakan Rantak Kudo dikarenakan gerakan dalam tariannya yang menghentak-hentak layaknya seperti kuda. Tarian yang indah itu mengedepankan dan menegaskan ketajaman gerakan dari para penarinya.

Gerakannya sangat dinamis, terinspirasi dari seni pencak silat. Dalam gerakannya menimbulkan bunyi dari hentakan kaki yang selaras. Hal lain yang melekat dalam tarian itu adalah dalam pertunjukannya para penari dirasuki makhluk halus hingga bertingkah tak seperti manusia normal. Tak heran, saat tarian tersebut digelar, aroma kemenyan akan tercium di sekitar tempat pagelaran.

Biasanya, tarian tradisional tersebut dipersembahkan untuk merayakan hasil panen pertanian di daerah Kerinci yang akan berlangsung selama berhari-hari tanpa henti. Terkadang, jika daerah Kerinci dilanda musibah musim kemarau yang panjang, masyarakat akan turut mementaskan kesenian dalam rangka berdoa memohon kepada Tuhan agar dimudahkan segala urusannya.

Dalam pelaksanaannya, mereka akan berdoa dan memohon kepada Tuhan sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Tujuan dari pementasan tarian itu pada umumnya adalah untuk melestarikan pertanian dan kemakmuran masyarakat.

Baca:
Nilai Luhur dalam Tari Persembahan dari Riau

Tujuan lainnya adalah untuk menunjukkan rasa syukur masyarakat dalam musim subur atau juga dalam musim kemarau sebagai upaya memohon berkah hujan yang dianggap sakral oleh masyarakat Kerinci.

Dijelaskan, Tarian Rentak Kudo merupakan adaptasi dari tari Asyek, namun ada perbedaan di antara keduanya. Jika di dalam tari Asyek terdapat persembahan atau sesajen, sedangkan pada tari Rentak Kudo tidak ada sesajen sama sekali.

Selain itu, kesenian tradisional tersebut juga sangat identik sekali dengan bahasa dan gaya bahasa masyarakat Kerinci daerah Rawang dalam menembangkan syairnya yang disebut “Asuh” dan penyanyinya sering disebut “Pengasuh”.

Mayoritas pengasuh atau penyanyi dalam Rentak Kudo berasal dari daerah Tanjung Rawang, yang berada di hilir hamparan Rawang dengan menyusuri pinggiran Sungai Batang Merao yang mengalir menuju Danau Kerinci. Hal itu dapat dilihat dari lirik dan pantun serta Bahasa Rawang yang digunakan dalam mendendangkan lagu yang mengiringi gerakan tarian.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Makepung, Tradisi Balap Kerbau yang Berawal dari Iseng

Koropak.co.id, 08 Baronial 2022 07:15:24

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Bali
– Tak hanya memiliki pesona wisatanya yang terkenal sampai ke mancanegara, Bali juga memiliki keanekaragaman seni dan budaya yang tetap dilestarikan sampai saat ini. Satu di antaranya tradisi Makepung.

Tradisi yang berasal dari Kabupaten Jembrana itu merupakan balapan kerbau yang dilakukan masyarakat petani, dan sudah berlangsung secara turun-temurun. Biasanya, tradisi Makepung dilakukan pada saat musim tanam padi tiba.

Makepung telah menjadi identitas dari Kabupaten Jembrana yang dikenal sebagai “daerah buangan” bagi masyarakat “pembangkang”. Selain itu, Jembrana juga turut dikenal sebagai daerah yang heterogen dan lebih terbuka terhadap perubahan.

Selain sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang, di sisi lain tradisi makepung juga memiliki arti sebagai olahraga gaya petani Bali lawas. Tradisi ini juga dinilai untuk memupuk semangat dan kegigihan dalam berjuang demi meraih sebuah impian.

Tradisi tersebut dipercaya sudah ada sejak 1925 dan berawal dari sebuah permainan iseng yang dilakukan para petani saat membajak sawah. Seiring berjalannya waktu, para petani mengubah kegiatan iseng tersebut menjadi tradisi lomba balap kerbau yang dilakukan di loonshit sawah.

Baca:
Tradisi Ngerebeg Bali Ditetapkan Jadi WBTb Indonesia

Para petani sepakat untuk mengadakan semacam lomba adu cepat di atas cikar-cikar atau pedati sebagai pengangkut hasil panen. Pedati itu ditarik satu akit kerbau atau sepasang kerbau yang penuh dengan muatan padi hasil panen raya dari sebidang tanah yang mereka garap.

Ternyata, kegiatan itu memberikan dampak yang positif bagi para petani hingga kerbau yang mengangkut pedati. Akhirnya, lomba adu cikar pengangkut padi itu berkembang menjadi atraksi pakepungan.

Kini, tradisi Makepung biasa diadakan di Kabupaten Jembrana pada hari Minggu di bulan Juni south.d Oktober. Aturan mainnya mirip dengan tradisi Karapan Sapi yang ada di Madura. Tapi, ada hal yang sedikit unik.

Pemenang dalam tradisi ini ditentukan dengan siapa yang berhasil membuat jarak antarpeserta di belakangnya sejauh sepuluh meter. Jika lawan berhasil mempersempit jaraknya menjadi kurang dari ten meter, maka sang lawanlah yang menjadi pemenangnya.

Seiring berjalannya waktu, Makepung bertransformasi menjadi salah satu agenda tahunan, hingga ada Makepung Gubernur Cup dan Jembrana Loving cup. Ratusan peserta dari berbagai kalangan turut memeriahkan kegiatan tersebut.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Berkunjung ke Kampung Adat Sijunjung, Pahami Aturannya

Koropak.co.id, 07 August 2022 07:07:23

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Sumatra Barat
– Selain terkenal dengan kuliner rendangnya, hal lain yang dimiliki Sumatra Barat adalah gaya arsitektur rumah adatnya yang khas. Atap rumahnya kerap menjadi gambar penanda rumah makan Padang.

Salah satu daerah yang hingga saat ini masih memertahankan rumah adat itu adalah Kampung Sijunjung yang berada di Jalan Diponegoro, Lalan, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat.

Memiliki luas tanah sekitar 150 hektar, di Kampung Adat Sijunjung ada 76 buah rumah adat yang tersusun rapi. Rumah-rumah itu merupakan simbolisasi kepemilikan harta pusaka oleh kaum kerabat wanita yang diikat menurut garis keturunan ibu.

Seperti halnya desa pada umumnya, di Kampung Sijunjung juga ada beragam fasilitas yang terbilang cukup lengkap, seperti pemukiman, sawah, ladang, pangdampa kuburan, surau, mesjid, pasar, hingga jalan dan balai adat yang tersusun pada di surface area yang saling berdekatan dengan sungai.

Baca:
Kampung Adat Urug, Tempat Bermukimnya Keturunan Prabu Siliwangi

Ada satu hal lagi yang menarik dari kampung adat ini, yakni perayaan Festival Bakava Adat dan Membantai Kerbau yang sering dilaksanakan setiap tahunnya dan tetap dilestarikan sampai dengan saat ini.

Untuk menjaga kelestarian di kampung adat tersebut, masyarakat setempat pun membuat aturan atau kesepakatan dengan memberikan hukuman sanksi sosial bagi anggota masyarakat yang melanggar ketentuan adat.

Kesepakatan itu di antaranya saat bertamu, wajib untuk saling bertegur sapa saat bertandang ke rumah warga atau melewati setiap rumah gadang. Selain itu, apabila ada seorang warga yang berada di rumah dan menyapa mampir, maka harus dibalas dengan senyuman dan harus mampir.

Aturan selanjutnya, jangan membiarkan suguhan yang disajikan tuan rumah tidak dimakan, karena menolak suguhan makanan maupun minuman sendiri merupakan hal yang kurang santun. Jika makanan atau minuman yang disuguhkan itu tersisa juga sangat tidak mengenakan. Sebaliknya, apabila tamu telah menghabiskan makanan maupun minuman yang disuguhkan, itu dianggap sebagai sebuah keberuntungan.

Di kampung adat ini juga tidak diperkenankan sekali untuk berkata kotor, dan perempuan dianjurkan memakai rok dan baju yang rapi. Jika semua itu dilanggar, maka akan ada sanksi adat.

Silakan tonton berbagai video menarik disini:

Membaca Sejarah Tradisi Maen Pukulan, Silat Khas Betawi

Koropak.co.id, 06 August 2022 12:31:19

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Djakarta
– Selain punya kerak telor, lenong, dan beragam seni budaya lainnya, Betawi juga ternyata memiliki silat khas yang bernama maen pukulan. Itu menjadi ajang bagi para jago silat atau yang terkenal dengan sebutan jawara untuk adu kekuatan. Siapa paling unggul, dia akan disegani masyarakat.

Maen pukulan merupakan permainan yang melibatkan kontak fisik, serang, dan membela dengan atau tanpa senjata. Main di sini juga menandakan adanya kesenangan, sehingga dengan kata lain, bagi orang Betawi ilmu bela diri itu awalnya adalah sebuah permainan dan bukan adu jago.

Antropolog Universitas Indonesia, Yasmin Zaki Shahab, memperkirakan, sejak abad ke-16, masyarakat setempat sudah mempertunjukan seni silat di berbagai acara penting, seperti pesta perkawinan hingga acara khitanan.

Bagi orang Betawi juga silat tidak hanya sekadar seni bela diri, tapi menjadi suatu produk sosial hingga seni budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hal senada disampaikan budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra. Menurutnya, ada ikatan yang erat antara budaya Betawi dan seni bela diri. Di masa lalu, ibadah salat dan silat sudah menjadi kewajiban bagi anak-anak Betawi.

“Maen pukulan ini pernah begitu menyatu dengan kehidupan masyarakat Betawi. Bahkan bisa dikatakan juga bahwa tradisi ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Betawi, hingga tidak ada satupun orang Betawi yang sama sekali tidak maen pukulan,” ucapnya.

Baca:
Lenong, Seni Teater Khas Betawi yang Sarat Pesan Moral

Sayangnya, seiring perkembangan zaman, tradisi maen pukulan ini justru hampir punah. Itu lantaran tidak banyak anak muda yang ingin belajar seni bela diri. Selain itu, anak-anak Betawi pun sudah jarang berlatih maen pukulan sehabis belajar mengaji.

Beberapa literatur sejarah menyebutkan, cikal bakal dari tradisi maen pukulan ini berawal sejak Kerajaan Tarumanegara menguasai Sunda Kelapa (sekarang Jakarta) sekitar abad ke-v south.d ke-7 Masehi.

Di masa lampau, pelabuhan Sunda Kelapa merupakan bagian penting. Tak heran, pelabuhan tersebut selalu mendapat perlindungan militer dari kerajaan. Selama menunggu pasukan datang, orang-orang di pelabuhan juga membutuhkan banyak orang jago yang direkrut dari daerah sekitar.

Pada 1618-an, diperkirakan sebanyak six ribu sampai 7 ribu prajurit yang ahli dalam bermain silat melindungi Jayakarta hingga memberikan pengaruhnya kepada masyarakat sekitar. Prajurit itu jugalah yang kemudian membentuk keluarga dan meneruskan ilmu bela dirinya.

Tak jarang, para jawara Betawi muncul bersamaan dengan masalah sosial yang terjadi pada masa itu. Meskipun mereka akan dielu-elukan sebagai pahlawan, namun tak sedikit juga jawara ini disebut sebagai bandit sosial.

G.J Nawi dalam bukunya “Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016)”, menyebutkan, meski memiliki nama maen pukulan, namun silat khas Betawi ini juga turut memuat beragam aspek, mulai dari aspek mental, spiritual, seni, bela diri hingga aspek olahraga yang menyatu dalam gerakan-gerakan khas pencak silat, baik itu bertahan maupun menyerang.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Lenong, Seni Teater Khas Betawi yang Sarat Pesan Moral

Koropak.co.id, 04 August 2022 12:21:41

Eris Kuswara

Koropak.co.id, Jakarta
– Mendengar kata lenong, ingatan kita pasti langsung ingat Betawi. Wajar saja. Itu lantaran beberapa tahun lalu, lenong pernah wara-wiri di televisi, dan memori kita masih merekam baik beberapa pemainnya.

Lenong yang merupakan teater tradisional dari Betawi memang sangat popular. Biasanya ditampilkan dalam berbagai acara hajatan dan perayaan-perayaan lainnya. Di dalamnya berisi cerita-cerita tentang kehidupan sehari-hari masyarakat yang dipadukan dengan unsur komedi.

Menariknya lagi, pertunjukan lenong ini biasa dilakukan secara cair. Antara pemain dan penonton bisa saling berinteraksi untuk mempengaruhi cerita dalam pertunjukannya. Dalam pertunjukannya, kesenian tradisional ini biasanya diiringi musik gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, kecrek, serta alat musik dengan unsur Tionghoa, seperti tehyan, kongahyan, dan sukong.

Untuk lakon atau ceritanya, pada umumnya mengandung pesan moral, yaitu menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela.

Meskipun eksistensi teater tradisional satu ini kian hari semakin memudar, namun sampai dengan saat ini, lenong dianggap sebagai salah satu sandiwara komedi yang paling populer di lanskap kebudayaan Betawi.

Baca:
Akulturasi Budaya Betawi-Tionghoa Melahirkan Gambang Kromong

Diceritakan, lenong mulai berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-twenty. Dikatakan bahwa kesenian teatrikal ini merupakan adaptasi masyarakat Betawi dari kesenian serupa seperti “komedi bangsawan” dan “teater stambul” yang sudah ada saat itu.

Seniman Betawi, Firman Muntaco, menyebutkan, lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong hingga berkembang sebagai tontonan dan sudah dikenal sejak 1920-an. Saat itu, lakon-lakon yang dibawakan dalam lenong, berkembang dari lawakan-lawakan tanpa alur cerita yang kemudian dirangkai hingga menjadi sebuah pertunjukan.

Awalnya, kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Bahkan, pertunjukannya kala itu diadakan di tempat terbuka tanpa panggung. Selanjutnya, pada saat pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris akan mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela.

Setelah itu, lenong mulai berkembang dan dipertunjukkan dalam acara-acara di panggung hajatan, seperti resepsi pernikahan sesuai dengan permintaan pelanggan. Barulah di awal kemerdekaan Republic of indonesia, teater rakyat ini murni menjadi sebuah tontonan panggung.

Seiring berjalannya waktu, lenong semakin menjadi populer setelah pertunjukannya disiarkan di stasiun televisi, yang kala itu ditayangkan oleh TVRI mulai 1970-an. Tak hanya itu, kepopuleran kesenian itu juga turut membuat beberapa seniman lenong menjadi terkenal sejak saat itu, seperti Bokir, Nasir, Siti, dan Anen.

Silakan tonton berbagai video menarik di sini:

Source: https://koropak.co.id/17166/mengenal-angklung-alat-musik-tradisional-khas-sunda-yang-diakui-unesco

Posted by: biggayread.com